Comments

Cerpen: Aku Mau Pulang

Itulah yang aku pikirkan setelah dari jam 9 pagi berada di rumah sakit ini. Ya Allah ingin sekali aku menangis menghadapi semua ini sendirian - http://fairysweetnotes.blogspot.com/2012/07/aku-mau-pulang.html

Cerita Bersambung: Prolog

Sepasang kaki mungil berlarian kesana kemari. Sebentar-sebentar menuju pintu salah satu bangsal. Menempelkan telinganya pada pintu yang selalu tertutup untuknya - http://fairysweetnotes.blogspot.com/2012/07/prolog.html

Cerpen: To Be Your Sister

Pintu kamarku menutup keras. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benakku. Sedih, kesal, bingung, tidak terima, tidak siap, dan semua rasa yang tidak menyenangkan lainnya - http://fairysweetnotes.blogspot.com/2012/07/to-be-your-sister.html

Allah is the Only Guide

When the way is cloudy - http://fairysweetnotes.blogspot.com/2012/07/you-never-alone.html

Allah itu Lebih Dari Cukup

Ketika kamu tidak punya siapa-siapa selain Allah, Allah itu lebih dari cukup :)

Tampilkan postingan dengan label Sweet Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sweet Notes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2012

To Be Your Sister


BRAK!!!


Pintu kamarku menutup keras. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benakku. Sedih, kesal, bingung, tidak terima, tidak siap, dan semua rasa yang tidak menyenangkan lainnya. Aku tahu benar sikapku salah. Tapi entah mengapa, aku sering melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatiku. Dan sudah pasti ayahu kecewa padaku.

“Rady!” ayahku memanggil. “Kau sudah berjanji akan melakukannya kali ini. Kau tidak bisa selamanya melarikan diri.”

Aku tahu itu. Tapi aku tidak siap. Belum siap.

“Kau tidak akan siap kalau kau tidak mencobanya sekarang,” seru ayahku seolah telah membaca pikiranku.

Pada akhirnya aku membuka pintu kamarku. Terlihat lelak paruh baya yang berdiri di depan kamarku, ayahku, yang sudah berulang kali memintaku mengunjungi rumah nenek. Tidak, tidak hanya mengunjungi nenekku. Ke rumah nenek berarti menemui seorang pembunuh. []


Mobil kami melaju cepat menuju pedesaan tempat nenekku tinggal. Pepohonan berbaris di sepanjang jalan. Aku membuka jendela mobil, menghirup udara pegunungan yang begitu segar. Angin diluar bertiup dengan sunyi, sesunyi isi mobil ini. Tak sepatah katapun keluar dari mulut ayah maupun aku.

Aku begitu gugup. Tapi aku yakin ayahku lebih gugup menghadapi hari ini. Mengingat bagaimana masa lalu keluargaku, masa laluku. Jika ada pilihan yang lebih baik, aku yakin beliau tidak akan memilih tindakan beresiko ini. Namun aku yakin, beliau berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku sudah cukup dewasa untuk melakukan pertemuan ini.

Dan rumah mungil dengan halaman dan kebun yang begitu luas mulai terlihat. Perlahan mobil terparkir di depan rumah mungil milik nenekku. Seorang gadis kecil melompat dari pangkuan nenekku yang sedang duduk di teras rumahnya. Gadis itu berambut ikal, dikuncir dua, dan aku tak sanggup melihat wajahnya.

“Rady, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucap ayahku sebelum keluar dari mobil.

 Dan gadis itu menghambur ke pelukan ayahku saat beliau turun dari mobil.[]


“Sudah lama sekali,” ucap nenekku seraya memelukku erat. Aku balas memeluknya. Ya, sudah terlalu lama aku tidak bertemu nenek. Nenek terlihat jauh leih tua dari sejak terakhir aku melihatnya.

“Aku merindukan nenek,” kataku jujur. Kami melepaskan pelukan dan saling tersenyum.

“Hai, Rady,” panggil gadis kecil dalam gendongan ayahku. Barang sedikitpun aku tidak mampu menatapnya.

Beruntungnya, ayahku menyadari kekakuan sikapku. Dan sebelum hal buruk terjadi, ayah segera mengajak kami menuju kebun. Seperti saat aku kecil, setiap berkunjung, nenekku selalu menyiapkan makan siang bersama di kebun, sambil menikmati alam katanya. Tak ada yang berbeda, kecuali tak ada ibuku disana.

Makan siang ini tak berbeda seperti saat bertahun-tahun lalu. Tidak pernah sepi. Selalu ada tawa, canda, juga cerita. Tak berbeda, kecuali, bukan lagi aku yang bercerita dan membuat ayah dan nenek tertawa. Tapi gadis kecil itu. Dan hatiku terasa hampa. Sepi.

“Saat aku bilang pada teman-temanku aku punya kakak laki-laki, mereka semua iri padaku. Soalnya mereka kebanyakan tidak punya kakak, atau kakak mereka perempuan,” gadis itu bercerita penuh semangat. Dan sangat mampu membius perhatian ayah dan nenekku. “Lalu aku bilang, karena aku punya kakak laki-laki, dia akan selalu melindungiku,” lanjutnya sambil tersenyum. Kemudian sunyi.

Aku merasakan mata gadis itu menatapku yang tak bicara ataupun mengekspresikan sesuatu.

“Ayah, kenapa Rady diam saja dari tadi?” tanyanya. Ayahku tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Rady, kau kok gak bicara apapun? Kau tak suka aku ya?" gadis itu menatapku tajam.

 Aku tetap tak berani memandang pemilik suara mungil itu. Tak juga berkata sepatah katapun. Dan ayah mulai memandangku dengan wajah marah.

“Rady, Lila mengajakmu bicara. Kenapa kau diam saja?” suaranya terdengar menahan amarah.

Dan aku mulai memberanikan diri memandang wajah mungil disana. Wajah yang begitu membuatku kembali membencinya. Wajah yang perlahan berhasil membuatku mengurungkan niat untuk mulai menyayanginya. Dia... terlalu mirip ibuku. Begitu miripnya hingga mengingatkanku pada kejadian itu. 

Delapan tahun silam...
Rady kecil berumur sepuluh tahun. Sudah cukup tua usia Ibunya untuk hamil lagi saat itu. Rady kecil begitu bahagia ketika mengetahui ibunya hamil. Artinya ia akan memiliki adik, seperti teman-temannya yang lain. Nantinya akan ada yang bisa ia ajak bermain, berbagi mainan, ataupun berbagi kue. Dan ketika ia tahu kemungkinan adiknya adalah perempuan, ia begitu bahagia. Pasti adiknya akan mirip dengan ibunya, pikirnya. Hingga tiba saat ibunya harus melahirkan, lendir bercampur darah mulai terlihat, dan ibunya mulai merasa perutnya sakit. Mereka segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Saat ibunya memasuki kamar bersalin, Rady kecil terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi. Berjam-jam menunggu diluar sendirian, karena ayahnya menemani ibunya di dalam kamar bersalin. Ia menutup wajahnya dan hanya bisa berdoa. Dan suara tangispun terdengar. Adiknya telah lahir. Ia segera bangkit dan mendekati pintu kamar bersalin ibunya. Lama, dan membuatnya mulai takut. Kemudian menangis...ketika akhirnya ayahnya keluar dan segera memeluknya. Ibunya meninggal.....


Tanganku mulai mengepal, juga menahan air mata. Aku merasakan sentuhan hangat tangan nenek. Berusaha menenangkanku yang terhanyut dalam perasaan saat Lila, adikku, lahir. Terbayang kebencianku pada Lila saat mengetahui ibu meninggal setelah melahirkan gadis kecil itu. Kebencian itu  membuatku gila, yang sangat ingin mengakhiri hidup adik kecil yang dulu sangat kunantikan. Yang tergila adalah ketika aku nekat membawa pisau mendekati Lila, dan ayahnya melihat kejadian itu. Dan segera setelah itu Lila dibawa pergi ke rumah nenek.  Hidup terpisah dariku mungkin memang yang terbaik bagi Lila. Juga bagiku.

“Rady! Inikah yang dilakukan seorang kakak pada adik yang delapan tahun tak pernah ditemuinya? Sampai kapan kau tidak dewasa seperti ini?” ayah membentakku.

Tiba-tiba air mataku meleleh. Aku berlari ke dalam rumah nenek dan melupakan makanan di meja makan. Aku berusaha untuk menahan tangisku. Aku tahu saat ini ayah sangat marah padaku. Dan aku mendengar ucapan Lila di luar.

"Ayah, begitu bencikah Rady padaku? Aku gak tahu salahku. Bahkan aku ga diberi waktu untuk tahu apa salahku. Aku gak pernah minta ibu melahirkanku. Tapi aku ga bisa memilih ibuku sendiri...” suara Lila diiringi tangis yang begitu membuatku merasa seperti orang tak berperasaan.

"Lila.." ayah terdengar menenangkan Lila.

"Ayah, ini gak adil. Apa Rady marah karena aku menyebabkan ibu meninggal? Tapi Rady masih bisa bertemu ibu. Sedangkan aku tidak pernah...hiks..hiks..apa dia pernah  memikirkan perasaanku? Aku sangat sayang pada Rady, Ayah.."

Nenek menghampiriku. Mengelus bahuku dari belakang. Dan aku hanya bisa tertunduk menangis. Entah apa yang aku rasakan. Apakah aku benar-benar membenci Lila? Apakah aku sedih mendengar ucapannya tadi? Aku tidak mengerti.

Aku bangkit, “Nek, aku minta waktu untuk sendiri... Aku akan berjalan-jalan di luar,” kataku lembut.[]


Langkahku perlahan menyusuri jalan dan mulai menjauh dari rumah nenek. Memikirkan sikapku. Aku tahu tak seharusnya aku begini. Aku telah berjanji akan merubah sikapku pada Lila. Tapi semua rencana itu hancur seketika saat meilhat wajanya. Seakan dia itu ibu. Dan itu membuatku semakin berat untuk memulai menyayangi Lila. Semakin berat menganggap pembunuh itu sebagai adikku.

Duk. Bola plastik muncul dihadapanku. Dan satu dari kerumunan anak kecil di sebuah lapangan menghampiriku. Ia tampak ragu ingin mengambil bola itu. Aku berjongkok dan memberikan bola tersebut pada bocah itu.

“Kau mirip temanku,” ujarnya, “ tapi lebih mirip ayah temanku,” lanjutnya sambil menatapku.

“Benarkah?”

Bocah itu mengangguk yakin. “Namanya Lila. Katanya ia punya kakak laki-laki, mungkin dia mirip sepertimu. Dan Lila bilang, kakaknya baik dan pasti akan menolong Lila jika sesuatu yang buruk terjadi,” ujarnya. Lalu berlari kembali kepada teman-temannya.

Aku berdiri kembali. Memikirkan kata-kata yang diucapkan teman Lila barusan. Betapa ironisnya perkataan teman Lila dengan apa yang sesungguhnya kulakukan. Aku tidak menolong Lila, aku malah mungkin meluakainya. Sangat kejamkah aku? Aku semakin tidak mengerti apa yang kurasakan terhadap Lila.

Tanpa terasa aku telah jauh melangkah kembali menuju rumah nenek. Dan entah apa yang terjadi, ada kerumunan orang di sebuah persimpangan jalan. Dan aku tak berhasil untuk pura-pura tidak tahu. Kudekati kerumunan itu, ternyata kecelakaan. Begitu ramainya sampai aku sulit melihat korbannya. Samar-samar terlihat tangan kecil terkepal. Anak kecil? Aku segera meneroboskan tubuhku ke dalam kerumunan itu dan... LILA! []


Kecelakaan itu layaknya sebuah cerita dalam drama, sebuah lirik dalam lagu, sebuah kisah yang tak pernah benar-benar nyata. Sunyi. Tapi ini nyata. Dingin. Hening. Namun tidak sepi.

Selayaknya kisah, yang tak pernah nyata dalam hidupmu. Namun ketika ia sungguh hadir, begitu nyata, kau bahkan mampu berbuat berkebalikan dengan kata hatimu. Atau malah, kau akan mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya.

Aku tidak mampu mendengar suara ayah maupun nenek, tidak juga sentuhan mereka. Hanya saja aku tahu mereka ada, dan mungkin tak percaya dengan apa yang kulakukan. Aku juga bahkan tak percaya aku melakukannya. Hatiku hancur seketika, air mata tiba-tiba mengalir, kepanikan mencuat, dan aku segera berlari menggendong Lila menuju rumah sakit. Hal yang tidak akan dirasakan orang yang belum pernah kehilangan orang yang berharga baginya, hatinya hancur. Dan itulah yang kurasakan saat melihat Lila berdarah tak berdaya di jalanan. Aku merasa hancur... dan tidak ingin kehilangannya.

Kecelakaan itu, hal yang tidak pernah nyata dalam hidupku. Dan ketika ia hadir dan hampir merenggut adikku, membuatku mengerti perasaanku sesungguhnya. Aku menyayangi adikku, ya, dia adikku. Lila adalah adikku.

Dan disinilah aku, diruang perawatan, menggenggam jari mungil Lila, dan menantinya membuka mata kembali. Menyesali keangkuhanku. Kepergianku dari rumah nenek membuat Lila kabur mencariku, dan saat tiba di persimpangan jalan, ia yang belum bisa menyebrang sendiri akhirnya terserempet mobil.

Jemari kecil Lila bergerak. Aku segera kembali ke alam sadarku. Perlahan ia membuka matanya dan melihatku yang sedari tadi menggenggamnya. Ia tersenyum. Dan air mataku meleleh kembali.[]


Oh darling don’t you ever grow up, don’t you ever grow up, just stay this little
Oh darling don’t you ever grow up, don’t you ever grow up, it could stay this simple
I wont let nobody hurt you, wont let no one break your heart...


Alunan lirik tersebut menghancurkanku. Kau bahkan masih kecil, Lil. Dan kau terluka olehku, kakakmu sendiri. Air mataku hampir jatuh kembali.

“Rady! Jangan menangis!” ujar Lila yang menatapku dengan mata bulatnya. Aku tersenyum. Dia juga tersenyum.

“Lil, apa cita-citamu?” tanyaku sambil memasukan sesendok teh padanya.

“Menjadi adikmu,” jawabnya tegas dengan senyum khasnya. Namun perlahan senyumnya hilang melihat ekspresiku yang tak bergeming. “Boleh?” tanyanya dengan sedih.

Aku tersenyum. Kubelai rambutnya, “tentu saja kau adikku,” senyumnya kembali. “Selamanya...”[] (fy)



Senin, 14 Mei 2012

PORSANTI 2012

PORSANTI 2012 adalah pekan lomba-lomba yang secara rutin diadakan oleeh fakultas kedokteran UNS tiap tahunnya..


nah diantara lomba yang banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk bgt itu, ada lomba bikin music video dan menari berkelompok :D
nah ini gue mo sekedar share karya angkatan gue haha, lumayan untuk hiburan, di sela-sela praktikum yang banyak masih bisa loh bikin karya begini :p haha


SUSAN feat Kak. Ria


Menari Berkelompok


porsanti kali ini temanya kan anak-anak, jadi ini adalah kenangan masa kecil kita haha

enjoy watching :)

Rabu, 11 April 2012

Betapa Besarnya Allah, Betapa Kecilnya Kita

Selasa, 10 April 2012

Waiting For The Enchantress


@flamelauthor
First:


Second:



Third:


Fourth:


Fifth:


Sixth: *uwaaa waiting for it sooo mucchhh


visit: http://www.dillonscott.com/

London.. London...

Banyak-banyaklah bepergian melihat dunia selagi muda supaya kelak nantinya kita bisa membangun bangsa ini sehebat negeri mereka.
Saya kepada seorang teman (via kuntawiaji)

Ilmu ikhlas

Ikhlas adalah jenis ilmu tertinggi di muka bumi ini. Karena itu penguasaannya begitu sulit. Meskipun sudah berderai-derai basah mata kita dengan air mata, tetap saja mungkin kita masih belum dapat dikatakan sudah menguasainya. Memang betul, hidup adalah belajar. Belajar ikhlas meski tak rela.
(via kuntawiaji)


IMO: Anatomi (???)

Assalamualaikum :D
malam guuyysss :D


lalala yeyenum!
see! gue posting lagi malam ini haha. betapa beda dengan masa-masa awal blok yang tiap hari ngenet untuk cari bahan tutorial, sisanya malam adalah belajar untuk pretest :p

Sebenernya besok adalah hari yang kosong, tapi batal karena skill lab berubah jadi hari besok, padahal mestinya jumat -_-

Nah, berhubungan dengan judul yang gue bikin, apa coba maksudnya????? :D
yak, ini cuma sebuah postingan tentang anatomi dari kacamata seorang gue B)

Jadi, pertama, apa yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata ANATOMI??? *emmm mikir

Anatomi, kalo kata mbak wiki adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup.

gue pribadi pertama kali ketemu sesungguh-sungguhnya ama anatomi adalah pas masuk fakultas kedokteran. Asli. bahkan dari ospek gue udah ketemu masbrooo...
awalnya adalah ketika ospek, ada sesi keliling lab, nah udah pastia ada yang namanya lab anatomi. dengernya aja udah ngeri gimana gitu ya.. apalagi pas masuk beneran...

pertama, gue deg-degan, terus mulai saatnya gue masuk berdua temen baru gue. tugasnya disuruh jawab pertanyaan yang jawabannya adalah diantara preparat yang disediakan. oke, kalo jaman SMA dulu, preparat mah palingan sesuatu yang ada di deck glass, tapi di lab anatomi, preparat adalah cadaver! cadaver yang sesungguhnya T.T
yang makin bikin suasana menegangkan, begitu masuk, gue disuruh salaman, sama tangan. iya. tangannya doang :).. :0... :(  dan itu sesuatu banget! terus berlanjut, tegangan tinggi llagi pas mesti megang 'preparat' yang itu beneran dari tubuh manusia T.T OMG banget... :'(
tapi, setelah ketakutan itu, kalo dibanding sekarang, lihat cadaver menjadi sebuah kebutuhan. butuh? iyalah. kalo gak pake cadaver, bakhan gue jadi gak ngerti tentang apa yang gue pelajari hehe.

kesan itu mulai terbiasa. sampai akhirnya di semester 1 gue dapet course anatomi. belajarnya masi gampang, cuma tentang tulang ko :) *ah itu pas di SMA juga pernah (itu pikiran picik gue awalnya, tapi pas menghadapi kenyataan, ternyata begitu pelik. peliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkk banget) dulu, pas SMA, cuma ngapalin nama tulang aja. AJA. sekarang, bahkan cekungan kecil yang gak keraba kalo ga bener2 konsen ngerabanya aja ada namanya, dan itu harus apal -_-

pernah liat????

iya, itu SOBOTTA. Iya, itu dulu buku perpus yang fenomenal pas SMA. iya, itu gak pernah terpikir untuk dibeli. iya, gue sekarang PUNYA!!! * begitulah, dulu, sempet diomelin dosen gara2 gak punya altas sobotta, yang 2 jilid harganya 1,5jt :O buekekekek...
dan bayangkan, sekarang dibilang sobotta itu gak lengkap. JLEP! *piye perasaanmu???

***

Memasuki zona yang dinantikan.
keekstreman terjadi saat mulai menjalani praktikum anatomi.
diawali dengan asistensi yang selalu dimulai jam 5.30 WBA (waktu bagian anatomi), yang bahkan gerbang belakang uns belom buka.
dan pretesnya ini looohhhh T.T 2 tahap!
tahap 1 adalah saat pagi hari secara tertulis, tahap 2 disaat praktikum secara lisan.

dari taun2 sebelumnya, pretest anatomi emang menjadi kegalauan tersendiri. biasanya mahasiswa akan begadang dan berakhir gak tidur atau ke kampus tanpa mandi pagi, bisa juga malah telat karena ketiduran *maklum malemnya bagadang

praktikum anatomi pertama gue adalah blok muskuloskeletal. dari judulnya kita mesti apal tulang serta otot. bayangkan, sebanyak itu mesti apal. udah mana belom tentu apal, yang keluar malah saraf-sarafnya -_- piye perasaanmu??

kedua, respirasi. gak terlalu banyak bahannya. tapi teteup. susah -_-"

ketiga, neurologi. iya ini mah gausah ditanyalah ya. pasti sarap beneran soalnya 

keempat, kardiovaskular. ini sejatinya materinya gak terlalu banyak dan masih bisa dinalar. karena nama arteri dan vena itu namanya masih mengikuti letaknya. kalo saraf?? namanya aja gak ngerti asalnya dari mana  -_-

kelima, gastrointestinal. lumayan bikin pusing walau sebenernya asik. tapi, pretes kali ini emang gak tepat waktunya. bener2 pascasibuk*alasanmahasiswa*... dan rasanya pretes kelima ini, gak bisanya bagaikan lebih parah daripada gak bisanya  pretes pertama. karena saat prettes pertama, kalo gak tau jawabannya, masih bisa ngarang jawaban. tapi pas sekarang, entah deh, mo ngarang apa juga udah gaada ide -_-

dari seluruh pretes yang gue jalani 2 terakhir itu gue inhal. inhal? apaan tu? -> remed. ya. getir sekali


Selanjutnya, tipe pretes lisannya. dimana dalah 1 shift yang terdiri dari 5 kelompok, dipanggil masing2 kelompok 2 orang. yang mereka mesti jawab pertanyaan asisten, dan kalo gak bisa jawab, disuruh keluar untuk belajar lagi, dan kalo lebih dari 5 orang yang keluar berarti refrat shift. refrat itu semacam hukuman.
dan pengalaman gue, gue dipanggil 3 kali berturut-turut dan itu cuma bari sekali terakhir yang gue bisa jawab. pait. trims


***

udah ah, sumpah ini tulisan geje banget -_-
makasi blogger telah menjadi tong sampah gue :') terharu..

gudnite :)


Doaku :')


Tuhan, aku titipkan hatiku pada-Mu, sambil aku mengejar mimpiku. Ku tahu aku bisa mempercayakan Engkau untuk memberikannya pada orang yang berani bermimpi dan takkan lelah mendukung mimpiku; teman seperjuangan yang akan memiliki separuh belahan hatiku, yang akan Kami berikan pada-Mu dalam satuan utuh di akhir perjuangan kami. Semoga merdu salam dari-Mu bisa kami dengar setelah kebersamaan mendorong kami untuk melakukan hal hebat atas ridho-Mu. Jadi, sekali lagi, ku titipkan hatiku dalam kerapuhannya dan kecenderungan perasaannya untuk naik-turun; kuserahkan pada tangan kuasa-Mu.
(via kuntawiaji)

reblog dari tumblr 
(via kuntawiaji)
:')

Senin, 09 April 2012

Semester 4 itu "sesuatu" Banget

Assalamualaikum :)

Selamat malam pemirsaaaa.... tumbennya loh malam ini gue bisa belajar, belajar, BELAJAR gan :p
iya setelah 2 bulanan kira-kira gue selalu tutorial dengan apalah daya, akhirnya gue bisa belajar dengan sesungguhnya untuk tutorial malam ini hehe
Dan seriusan, rasanya menyenangkan banget, berasa banget gitu loh mahasiswa FK nya :p

Yak, kira-kira mulai 2 bulanan yang lalu, gue masuk semester 4, dan W-O-W "WOW" banget haha
terasa banget perbedaannya dengan semester abal-abal sebelumnya. Memamng ini masa terberat, dimana akademis lagi berat dan organisasi pun sedang berat dimana anak taun kedua sedang belajar menjadi kakak.

Dan terasa banget juga selama 2 bulanan itu juga banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget praktikumnya, bener deh, saking banyaknya, dan bertumpuk-tumpuk, rasanya tiap hari loh gue berangkat untuk asistensian, pretest dan sepagi-paginya berangkat adalah jam 5.30 pagi dimana kasur masih ingin memanjakan kita! Tolong!
Bahkan yang ekstrem itu bukan cuma sehari, tapi berkali-kali. Bahkan lagi kadang asistensinya double, sore juga pernah ada asistensi. Sungguh luar biasa, masalahnya, gerbang belakang UNS pun belum buka. Ya secara anak FK rata2 kosnya di belakang kampus. Dan kata temen gue, dia udah jadi pembalap, gara2 tiap hari ngebut mlu demi gak telat ke kelas -_- sungguh realita yang tak terbayangkan saaat gue belom masuk kuliah.

Nah, keadaan tiba-tiba berbanding terbalik saat ini. Semenjak ganti dekan, sistem ujian Blok juga berubah, jadi tiap 2 bulan sekali, jadi lebih kaya UTS tapi gak juga. Nah gue sudah memasuki masa-masa mendekati ujian blok. Dimana responsi selesai dan kuliah pun selesai, jadi murni tinggal nunggu ujian blok. Keuntungannya, jadi banyak waktu belajar. Namun ga untungnya, yakinkah apakah waktu kosong tersebut dipakai untuk belajar? Realita yang begitu pelik.

yang anehnya lagi, saat grafik akademis sedang menurun, begitu pula dengan organisasi, grafiknya juga turun. Sehingga kualitas pengangguran dan ansos di kosan pun meningkat!!! T.T

So, sejatinya memang saat ini mesti menguatkan niat, waktu segini banyaknya *sangat menarik hati untuk mudik, namun kenapa harus ada skill lab dan tutorial???!! T.T * dipakai untuk belajar. Walau kenyataannya, akan banyak kendala terutama pada kasur.

Ok, semangat kembali! Saya belum bikin BRK untuk besok Skill Lab besok~

Josh Hutcerson


cc: @jhutch1992
from:
to:
to:
to:
to:

setelah liat The Hunger Games kemaren, baru nyari tau sapa nama ni orang :p dari zathura, bahkan tiap liat Journey selalu motivasinya karena orang ini yang main tapi gak tau namanya haha, dan akhirnya tau juga namanya Josh Hutcerson :)


Viewers


Label

Followers

Blogger Com

Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources

Blogger Indonesia